reFormasi ato Deformasi????
May 27th, 2008 by nunz-wowInikah
reformasi Bung?
Sekarang
sudah menjadi lautan api, Mari Bung rebut kembali…(dari sepenggal lagu “Halo-Halo Bandung“)
Terkesima,
aku takjub mendengar dendangan lagu dari anak seumuran 10 tahun di sebelahku.
Aku tak tahu kenapa, dalam rangka apa dia menyanyikan lagu perjuangan itu.
Bahkan saking semangatnya, kepalan tangan ia acungkan ke langit. Sungguh, sebuah
semangat yang kadang aku lupakan. Malu…karena aku hanya bisa tergugu…
Aku tak
heran ketika kau juga akan merasakan hal yang sama Bung!!! Bangsa ini telah merdeka setengah abad lebih, bahkan
perbaikan-demi perbaikan (katanya) telah dilakukan di berbagai sektor
kehidupan. Tapi, sial…hanya segelintir orang di atas sana
yang menikmatinya. Rakyat? jangan tanya, setiap pergantian rezim justru makin
melarat. Semakin bingung bagaimana harus bersikap. Maka terjadilah aksi
besar-besaran itu, 1998, tahun dimana terjadi perombakan besar-besaran. Reformasi
begiu mahasiswa menyebutnya.
Tak terasa, sepuluh tahun sudah
berlalu sejak peristiwa besar itu. Sebuah prosesi penggulingan Suharto dari
singgasana yang telah didudukinya dengan teramat nyaman selama 32 tahun. Walau
sebenarnya esensi dari reformasi tak hanya terkotak pada hal tersebut, lebih luas lagi yaitu ke arah bagaimana rakyat
kembali bangkit dari keterpurukan ekonomi dan sosial. Isu pangan dan
pengangguran menjadi salah satu agenda reformasi ketika itu. Namun, karena Suharto
dianggap sebagai sumber keterpurukan terutama di bidang kemanusiaan (ingat
kasus penghilangan orang-orang yang tak sejalan dengan pemikirannya) maka
agenda utama pada masa itu adalah menggulingkan Suharto beserta kroni-kroninya
yang berarti adalah mengganti rezim orde baru dengan rezim baru yang (diharapkan)
jauh lebih baik.
Banyak cita-cita reformasi
ditelurkan, mencakup bidang politik, hukum, dan ekonomi. Sebagai contoh, di bidang hukum, program pemberantasan
korupsi di berbagai sektor pemerintahan. Pembentukan KPK dan
badan-badan lainnya menunjukkan keseriusan pemerintah untuk menangani hal
tersebut. Tapi sangat disayangkan, pemerintah seperti salah langkah. Program
otonomi daerah yang ditujukan untuk desentralisasi justru menjadi bumerang bagi
negeri ini. Korupsi semakin merajalela dan tersebar merata sampai di pemerintah
tingkat bawah. Hal ini menjadi indikator masih lemahnya sistem peradilan dan
hukum di Indonesia. Namun, tak perlu heran, dari berbagai pemberitaan dan kasus
yang terjadi terbukti bahwa masih banyak aparat hukum kita yang tak ubah
seorang mafia peradilan. Yang bersalah dibebaskan, sementara mencari orang
untuk menjadi kambing hitam, dipersalahkan.
Sepuluh tahun reformasi…
Seharusnya kita telah mampu
membusungkan dada, tersenyum bangga melihat rakyat yang makin sejahtera. Tak
lagi memikirkan bagaimana cara bisa makan, tak lagi bersusah payah membayar
uang sekolah. Namun, Pfuh...terlalu
banyak ketidakberesan di negara ini. Ketimpangan ekonomi yang jelas-jelas
terjadi, dipandang sebagai masalah klasik yang tak kunjung diselesaikan. Rakyat
miskin semakin bertambah akibat kenaikan harga bahan pangan. Dan bukannya
berusaha menyelesaikan masalah yang ada, pemerintah justru kembali berencana
menaikkan kembali harga bahan bakar minyak. Sungguh sangat bertolak belakang dengan agenda reformasi
yang menyerukan pangan dan BBM murah untuk rakyat. Lalu ?
Coba
cermati kawan, bagaimana pola kepemimpinan saat ini? Apakah wajah-wajah baru di atas sana? Wajah-wajah
reformis dengan segudang pemikiran yang maju, yang hanya berpikir bagaimana
rakyat bisa sejahtera. Ataukah wajah-wajah lama yang dipoles sedemikian rupa
sehingga tak tampak kebusukannya? Wajah-wajah jahat yang bersembunyi dibalik
topeng kewibawaan dan (sok) kepedulian? Atau justru wajah-wajah aktivis 98 yang
kini telah bermetamorfosa menjadi orang-orang pesuruh penguasa?
Sayang,
aku pun berpikir sama dengan kalian. Mereka di atas sana adalah wajah-wajah
lama. Yang kembali tampak segar ketika rakyat memilih mereka. Memilih karena
terlena dengan segudang janji yang sampai kini tak kunjung terealisasi. Huh….teramat menyebalkan!
Layaknya
seorang murid, ketika diberi PR maka dia akan mengerjakan dengan sebaik
mungkin. Begitu juga dengan agenda-agenda reformasi yang masih tersisa di
tangan untuk segera direalisasikan. Maka Kawan, saatnya kita sebagai generasi
muda mulai bergerak. Tak Menyusun taktik dan strategi untuk melawan tirani
kekuasaan yang tak berpihak pada rakyat. Tak perlu lagi kita menunggu langkah
gerak mereka para penguasa, terlalu lama dan mungkin tak akan terjadi.
Terserah
bagaimana kalian berkarya. Turun ke jalan ataukah lewat pemikiran-pemikiran
kalian yang cemerlang. Sebagai seorang teknisi yang mampu mencipta prestasi
lewat besi. Atau seorang musisi yang mampu membuat dunia kembali ceria dengan syair
dan lagu yang merdu. Ataukah kalian ingin menjadi seorang politisi yang duduk
di partai-partai politik. Namun ingat, tetap ingat tugas kalian. Jangan terlena
dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan.
Entah
dan terserah apa yang menjadi pilihan kalian. Yang jelas, tolong, atas nama
rakyat aku memohon. Biarkan rakyat kembali menghirup udara kebebasan. Kebebasan
dalam arti kemudahan mencari penghidupan dan menikmati pendidikan. Itulah
semangat serta makna reformasi dan demokrasi yang sesungguhnya. Sebuah semangat
yang harus kita rebut kembali. Benar begitu kan
Bung???